Selamat Datang Di Portal Resmi Kabupaten Aceh Besar

Pahlawan Aceh : Profil Malahayati

Kategori : Pahlawan Jumat, 10 November 2017 - Oleh admin

Aceh Besar,Media Center - Dibandingkan dengan Tjut Nyak Dhien dan Tjut Meutia, sosok Laksamana Keumalahayati relatif kurang dikenal riwayat hidupnya. Karirnya sebagai laksamana perempuan pertama di Nusantara bahkan mungkin di dunia, antara nyata dan sekedar mitos belaka.

"Itu karena beliau hidup sekitar lima abad lampau dan budaya kita sejauh ini masih lekat dalam tradisi lisan. Sepak terjak Malahayati banyak tercatat dalam dokumen di museum-museum Belanda, Portugis, dan terdekat di Malaysia," kata Endang Moerdopo kepada detikcom, Kamis (9/11/2017).

Perempuan kelahiran Jogjakarta itu pernah beberapa tahun tinggal di Aceh selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami. Di sela tugasnya, dia mendalami berbagai referensi tentang Malahayati. Hasilnya ia tuliskan ulang dalam bentuk novel bertajuk Perempuan Keumala yang dirilis pada 2008.

Presiden Joko Widodo, Kamis (9/11/2017) menetapkan Malahayati bersama tiga tokoh lainnya sebagai Pahlawan Nasional tahun ini. Tiga tokoh lainnya adalah pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Lafran Pane dari Provinsi DI Yogyakarta, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Nusa Tenggara Barat), dan Sultan Mahmud Riayat Syah (Kepulauan Riau).

Berdasarkan manuskrip yang tersimpan di Universitas Kebangsaan Malaysia, dan berangka 1254 hijriah atau 1857, Malahayati berasal dari keluarga bangsawan, sultan-sultan terdahulu di Aceh. Ia adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530-1539 M.

Menurut Solichin Salam dalam bukunya, Malahayati: Srikandi dari Aceh, sebelum menjadi seorang Laksamana, Malahayati merintis karir sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV, 1585-1604.

Kemampuan militernya terasah dari hasil pembelajaran sekolah kerajaan, Baitul Maqdis. Para pengajarnya antara lain berasal dari para perwira dari Turki. Hal itu terjadi ketika Kesultanan Aceh menerima bantuan dari Sultan Selim II pada era Kesultanan Ustmani guna menghadapi rongrongan dari Portugis maupun Belanda.

Di sekolah itu pula Malahayati mendapatkan jodoh, Tuanku Mahmuddin Bin Said Al Latief. Suaminya di kemudian hari menjadi Panglima Armada Selat Malaka dan meninggal dalam sebuah pertempuran.

Dari situlah kemudian patriotisme yang berlandaskan cinta kepada suami dan ingin membalaskan dendam kematiannya, Malahayati memimpin pasukan Inong Balee (anggota pasukan yang terdiri dari para janda yang suaminya telah syahid dalam perang).

Salah satu jejak heroisme Malahayati sebagai laksamana adalah saat harus melakukan duel dengan Cornelis de Houtman di atas geladak kapal pada 11 September 1599. Cornelis bersama adiknya, Frederik tercatat sebagai orang Belanda pertama yang menjejakkan kaki di bumi Nusantara. Semula keduanya datang dengan baik-baik, tapi ternyata bertindak khianat. Sehingga Sultan Aceh menugaskan Malahayati untuk mengusir Cornelis.

Menurut Endang, kisah duel di atas geladak itu antara lain tertuang dalam buku Kerajaan Aceh; Zaman Sultan Iskandar Muda: 1607-1636 karya sejarawan asal Prancis, Denys Lombard. "Dia kena tikam rencong Malahayari, sedangkan si Frederick ditahan selama dua tahun," ujarnya.

Di masa Orde Baru, nama besar Malahayati antara lain diabadikan sebagai nama pelabuhan di Krueng Raya, Aceh oleh Presiden Soeharto pada 4 April 1977. TNI Angkatan Laut juga mencatatkan nama Malahayati untuk Korvet buatan Belanda pada tahun yang sama.