Selamat Datang Di Portal Resmi Kabupaten Aceh Besar

PRO ABES lakukan Sosialisaai & FGD Bersama Pemuda dan Mahasiswa Aceh Besar

Kategori : Kabar Dinas Minggu, 21 Oktober 2018 - Oleh mediacenter

Aceh Besar, Media Center -- Tim Pendampingan Program Aceh Besar Sejahtera (TP2-Abes) sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menggelar Sosialisasi Program Aceh Besar Sejahtera (Pro Abes) dan Focus Group Discussion (FGD), bersama OKP/Ormas se-Aceh Besar yg dihadiri oleh KNPI, HMI, PII, PB-IPAR, PP-HIMAB, SOMADA dan FOKUSGEMPAR . Dalam diskusi tersebut juga hadir organisasi/paguyuban Mahasiswa dan Pemuda Kecamatan se-Aceh Besar, dalam rangka membahas penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Aceh Besar melalui Pro Abes, Sabtu (20/10)

Narasumber dan juga salah satu personil TP2-Abes Bidang Perencanaan dan Pengendalian Nanang Hasani, SE,. MM menyampaikan bahwa Pro Abes merupakan program penanggulangan kemiskinan daerah yang digagas dan dibentuk oleh Bupati Ir. Mawardi Ali bersama Wakil Bupati Tgk H. Husaini A. Wahab pada akhir tahun 2017. Program tersebut dibentuk melalui Peraturan Bupati Nomor 58 Tahun 2017. Pro Abes diberikan kewenangan untuk Pendataan, Verifikasi Faktual Lapangan dan Validasi data kemiskinan dalam Wilayah Kabupaten Aceh Besar yg tdk terkufer dalam Basis Data Terpadu (BDT) maupun Non BDT (kearifan lokal).

Tujuan dibentuknya Pro Abes adalah untuk akselerasi penanggulangan kemiskinan dikabupaten Aceh Besar. Dalam proses pelaksanaannya Pro Abes melakukan koordinasi, sinkronisasi dengan SKPD terkait dikabupaten dan beberapa program seperti PKH, Baitul Mal serta program lainnya terkait penanggulangan kemiskinan, sehingga pelaksanaannya terintegrasi dan Pro Abes nantinya menyediakan data Kemiskinan yg terpadu sehingga dapat digunakan oleh semua pihak dalam membantu masyarakat miskin yg selama ini terkesan tidak tepat sasaran. Disisi lain Pro Abes mengkufer Bansos yg selama ini tidak mendapatkan bantuan dari program lain, dan disesuaikan dengan kemampuan dana daerah.

"Nanang' menambahkan penanggulangan kemiskinan perlu dilihat secara komprehensif. Kemiskinan tidak hanya dapat dinilai dari bangunan fisik rumah saja, tapi perlu identifikasi, penggalian informasi terhadap kondisi sosial masyarakat miskin.

Skema pendataan Pro Abes menggunakan konsep "by a name by address", sedangkan Penilaian dan penetapan seseorang itu miskin melalui tahapan verifikasi dgn menggunakan variabel dan indikator.

Sementara itu, TP2-ABES Bidang Humas dan SDM Pro Abes, Teddy Helvan, SE mengatakan bahwa kedepannya Pro Abes akan melakukan pengembangan kegiatan program lainnya seperti Pelatihan life skill dan soft skill kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Kegiatan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat miskin melalui kegiatan UEP, kegiatan Peningkatan perumahan layak huni dan beberapa kegiatan lainnya yg menyangkut peningkatan kualitas hidup KK miskin. Tim pendamping dilapangan akan menggali potensi mereka semua.

Terkait Bantuan Sosial berupa uang ini hanyalah untuk stimulasi mereka, sifatnya tidak permanen. Karena uang Bansos yang diberikan jumlahnya kecil yaitu 1,8 juta/KK/Tahun. Uang tsb hanya untuk meringankan beban hidup dalam memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga. Dalam keterkaitan dengan Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Pendamping Pro Abes Kecamatan melakukan Pendampingan dan Pembinaan dilapangan, agar KPM tersebut benar-benar memanfaatkan bantuan sesuai kebutuhan mereka. Maka itu kami sangat mengharapkan dukungan dari teman-teman mahasiswa dan pemuda di Aceh Besar sebagai kontrol sosial untuk mengawasi pelaksanaan kegiatan pro Abes dilapangan,” tambah Teddy.

Selanjutnya, Ketua PP-HIMAB Ulul Azmi, dalam FGD tersebut menyampaikan, Pro Abes harus bisa maksimal dalam menyalurkan program bantuan dari Pemkab Aceh Besar. Selain itu, dirinya meminta agar mahasiswa dan pemuda di Aceh Besar dapat dilibatkan dalam pelaksanaan Pro Abes itu sendiri.

Sementara itu, perwakilan pemuda Kecamatan Baitussalam, Saiful Haris Arahas memaparkan bahwa pemuda di Kecamatan Baitussalam hampir sepenuhnya merupakan pengangguran. Dirinya menceritakan pasca gempa dan tsunami 2004 silam, masyarakat Baitussalam sangat kesulitan dalam meningkatkan pendapatan ekonominya.

“Nelayan ingin ke laut tapi kualanya dangkal, sehingga harus menunggu waktu-waktu air laut pasang agar bisa mengeluarkan boatnya, mau bertani bercocok tanam, tapi kesulitan dari segi membeli pupuk, dan tidak ada air dalam irigasi sehingga harus menunggu musim hujan,” kata Saiful yang juga merupakan unsur Pemuda Aceh Besar (IPAR).
“Begitu pun dengan anak mudanya, banyak yang pengangguran sehingga perlu adanya pelatihan dan pengembangan skill dan keterampilannya masing-masing,” tambahnya lagi.

Adapun perwakilan mahasiswa di Aceh Besar, Khumaini juga menyampaikan terkait banyaknya mahasiswa yang tergolong miskin, dan putus kuliah karena terkendala dengan biaya SPP, dirinya mengharapkan agar Pemkab Aceh Besar melalui Pro Abes dapat memberikan bantuan beasiswa untuk mahasiswa.
Info tentang Pro Abes dapat dilihat di www.proabes.com

(MC. Aceh Besar)