Selamat Datang Di Portal Resmi Kabupaten Aceh Besar

Penyerahan Hadiah Oleh Ketua TP-PKK Kabupaten Aceh Besar

Kategori : Umum Senin, 18 Desember 2017 - Oleh admin

Aceh Besar, Media Center - Hera Munita dari Kecamatan Kuta Malaka keluar sebagai juara pertama lomba pidato Tim Penggerak PKK Kecamatan dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-89 tahun 2017 di Kabupaten Aceh Besar. Sedangkan juara II, III, IV, V, dan VI masing-masing diraih Ida Royani (Kecamatan Mesjid Raya), Hasmidar (Sukamakmur), Dian Novita (Kota Jantho), Putri Hasanah (Baitussalam), dan Rosniati (Darul Imarah). Sedangkan untuk lomba membuat kue tradisional (kue keukarah), untuk juara I, II, III, IV, V, dan VI masing-masing dimenangkan oleh pengurus IPEMI, Dharma Wanita Persatuan, Persit, PKK Kabupaten Aceh Besar, Bhayankari, dan utusan kecamatan Indrapuri

Penyerahan hadiah kepada para pemenang tersebut dilakukan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Aceh Besar, Rahmah SH di sela-sela peringatan Hari Ibu ke-89 tahun 2017 tingkat Kabupaten Aceh Besar di halaman Kantor Bupati Aceh Besar, Senin (18/12/2017). Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, pengurus TP-PKK, pengurus Dharma Wanita, dan para pengurus organisasi kewanitaan di Aceh Besar, para kepala SKPK, dan tokoh-tokoh masyarakat.

Ketika bertindak selaku pembina upacara   Peringatan Hari Ibu ke-89, Bupati Aceh Besar Ir Mawardi Ali membacakan sambutan tertulis Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Prof Yohana Yembise.

Dikatakannya, peringatan Hari Ibu pada hakikatnya untuk mengenang dan menghargai perjuangan kaum perempuan Indonesia, yang telah berjuang bersama-sama kaum laki-laki dalam merebut kemerdekaan dan berjuang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Tekad dan perjuangan kaum perempuan untuk mewujudkan kemerdekaan dilandasi oleh cita-cita dan semangat persatuan kesatuan menuju kemerdekaan Indonesia yang aman, tentram, damai, adil dan makmur sebagaimana dideklarasikan pertama kali dalam Kongres Perempuan Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta.

Peristiwa ini sekaligus sebagai tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia dan diperingati setiap tahunnya, baik di dalam dan luar negeri. Komitmen pemerintah juga dibuktikan dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959, yang menetapkan bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu sekaligus Hari Nasional bukan hari libur.

Menurutnya, peringatan Hari Ibu juga menunjukkan bahwa perjuangan kaum perempuan Indonesia, telah menempuh proses yang sangat panjang dalam mewujudkan persamaan peran dan kedudukannya dengan kaum laki-laki, mengingat keduanya merupakan sumber daya manusia dan potensi yang turut menentukan keberhasilan pembangunan Momentum Hari Ibu juga dijadikan sebagai refleksi dan renungan bagi  kita semua, tentang berbagai upaya yang telah dilakukan dalam rangka memajukan pergerakan perempuan di semua bidang pembangunan. Perjalanan panjang selama 89 tahun, telah mengantarkan berbagai keberhasilan bagi kaum perempuan dan kaum laki-laki dalam menghadapi berbagai tantangan global dan multidimensi, khususnya perjuangan untuk mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia.

Ia melanjutkan, pelibatan dan peningkatan peran kaum laki-laki dan keluarga dalam pembangunan, juga menjadi bagian yang penting dalam rangka penghapusan segala bentuk diskriminasi dan tindak kekerasan lainnya, serta berbagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa. Sebagai contoh, maraknya berbagai persoalan bangsa dan kompleksitas masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat seperti: kekerasan termasuk tindak Pidana perdagangan orang (TPPO), pornografi, infeksi Menular Seksual dan HIV/AIDS, narkoba, kriminalitas, dan lainnya yang disebabkan karena runtuhnya pondasi ketahanan dalam keluarga. Oleh karena itu, peran keluarga dituntut lebih diperkuat, dibarengi dengan penanaman nilai-nilai kekeluargaan yang apabila dicermati, telah diwariskan oleh para leluhur kita sejak dahulu kala.(Mc.Abes)